Rabu, 09 Juni 2010

Pergaulan Siswa di Luar Batas

Melacak Pergaulan Siswa di Luar Batas: Siapa Bersalah?
Melacak Pergaulan Siswa di Luar Batas: Siapa Bersalah?DULU kasus kehamilan dan pelanggaran seksual yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi merupakan aib bagi orang tua dan kaum famili, sehingga yang bersangkutan diberi sanksi berat sampai diusir dari kampung. Sekarang kasus ini bila dilakukan oleh pelajar lebih banyak dikarenakan kepada nama sekolah. Ini tentu saja pukulan kepada wibawa sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sekolah dianggap telah gagal atau disiplinnya kurang, bila kedapatan pelajar-pelajarnya melakukan kasus aib ini. Tak begitu dipersoalkan meskipun pelanggaran seksual itu sendiri terjadi di rumah atau tempat lain akibat kegagalan orang tua dalam mendidik anak. Pokoknya, sekolahlah yang dituding.
Bagi sekolah, langkah yang tepat untuk membersihkan nama baiknya adalah dengan cara memecat pelajar yang berkasus atau dengan cara memindahkan pelajar tersebut, apabila ia telah hamil atau melakukan abortus Sekarang rata-rata tiap sekolah telah mendapat jatah nama buruk. Tidak pandang bulu apakah itu sekolah negeri atau swasta, bahkan merupakan pukulan yang lebih berat lagi bagi sekolah agama. Kasus kehamilan dan pelanggaran seksual tidak hanya terjadi di sekolah kota, tetapi juga di sekolah-sekolah desa. Dan umumnya, dilakukan oleh pelajar tingkat SLTA.
Rata-rata siswa SLTA yang berusia 16-20 tahun menurut teori Rumke sedang berada dalam masa genital. Dalam usia ini mereka penuh dengan dorongan emosional don dorongan libido, nafsu seksual. Dalam masa ini terjadi labilitas kejiwaan, yang bila tidak dikendalikan akan dapat mengarah kepada hal-hal negative. Apabila seorang pelajar tidak dapat mengendalikan diri misalnya, akan dapat mendorongnya untuk melakukan pergaulan bebas. Melakukan pelanggaran seksual terhadap teman wanitanya sendiri.
Tentu saja kasus-kasus yang terjadi di sekolah dilakukan oleh sepasang pelajar putera dan puteri. Tetapi risiko tertinggi dan berat ditanggung oleh pelajar puteri, karena akibat pelanggaran seksual itu sangat membekas pada perutnya yang membuncit serta robeknya selaput virgin. Sedangkan bagi pelajar putera, kadang-kadang dapat bersikap lempar batu sembunyi tangan. Menghindarkan dari tanggung jawab.
Perilaku kehidupan remaja, menunjukkan bahwa pengaruh orang tua dan stimulasi positifnya masih terlalu rendah. Amat sedikit orang tua dan anak melakukan acara ngumpul-ngumpul untuk melakukan dialog dari hati ke hati. Paling banyak cuma mengadakan ngumpul-ngumpul untuk menonton film serial di televisi. Kebanyakan pengaruh buruk pada remaja justru datang dari luar, yaitu melalui media massa cetak, audio visual, dan melalui pergaulan.
Pada umumnya, kegemaran remaja, pelajar, adalah membaca, menonton, mendengarkan musik, berkumpul dan ngobrol-ngobrol di samping melakukan aktivitas produktif yang lain. Pada umumnya orang tua tidak tahu apa yang mereka baca dan apa yang mereka tonton. Hal ini mungkin karena kesibukan, karena kurang peduli atau juga karena orang tua merasa enggan mencampuri urusan anak muda. Mungkin juga karena orang tua tidak mengenal tentang perkembangan jiwa remaja. Mungkin pada suatu hari datang teman mengatakan bahwa ada info bagus, sebagai isyarat telah ada peluang bagi mereka untuk menikmati bacaan atau film porno. Maka mereka pun membaca buku porno itu atau menonton film biru secara diam-diam di tempat teman atau di tempat lain.
Bacaan dan tontonan yang bersifat porno dapat mendatangkan kenikmatan dan merangsang keinginan seksual. Kemudian mereka akan berusaha mencari peluang untuk melampiaskannya secara sendiri atau berkelompok. Mungkin secara suka sama suka atau lewat perkosaan. Memang pengaruh pergaulan yang negatif sangat cepat meluas. Rata-rata orang tua tidak mengetahui istilah yang khas dalam pergaulan antara remaja istilah populer di kalangan mereka untuk mengartikan film biru adalah film 26, barangkali karena huruf B mewakili angka 2 dan huruf F mewakili angka 6.
Walau orang tua telah membatasi pergaulan mereka dan melarang terhadap hal-hal yang bersitaf negatif, namun adanya kesempatan-kesempatan lain, bagi mereka tak mungkin semuanya terbendung. Tentu ada juga peluang bagi mereka untuk berkumpul-kumpul dan mengadakan tukar menukar informasi, ngobrol mangenai benda benda porno.
Media massa yang dianggap sangat mengganggu kestablian jiwa remaja adalah bentuk audio visual yang mana secara diam-diam telah merayapi kehidupan mereka.
Dewasa ini orang, sudah banyak memiliki video kaset tujuan utamanya adalah untuk sarana hiburan anggota keluarga. Tetapi kemudian dibisniskan menjadi tujuan komersial dengan menyulap rumah mereka menjadi bios¬kop mini dan memungut uang tontonan dari kaset-kaset blue film. Rata-rata peminatnya adalah anak-anak pelajar, bukan saja dari tingkat SLTA tetapi juga pelajar tingkat SLTP setelah mengalami wet dream alias mimpi basah. Pelajar-pelajar di kota dan di desa banyak yang telah mengetahui lokasi-lokasi rahasia dari bioskop mini ini. Sungguh bagi pemilik video cabul sekeping uang lebih berharga dari segalanya. Mereka tega meracuni fikiran dan jiwa generasi muda melemahkan semangat pelajar untuk belajar dan bekerja.
Film-film dan bacaan porno sangat cepat merangsang penontonnya, begitu pula bagi pelajar. la cepat sekali meningkatkan ambisi seksual, dorongan seksual membuat mereka ingin melakukan iseng-iseng, mungkin terhadap pacar atau terhadap wanita lain. Ada majalah dan buku porno terbitan dalam dan luar negeri yang telah beredar secara diam-diam di kalangan mereka.
Secara naluriah, remaja laki-laki bersifat agresif dan remaja wanita bersifat pasif. Remaja pria sangat tertarik kepada info-info yang bersifat seksual. Sedangkan remaja wanita tertarik kepada hal-hal yang bersifat romantis.
Banyak anak-anak remaja yang tidak atau kurang punya latar belakang pendidikan agama, orang tua pun tak memberi perhatian yang cukup. Mereka itu dapat saja memperkenalkan bacaan dan majalah porno kepada teman wanita, lawan jenis mereka. Dan kemudian mencari tempat-tempat yang sepi. Setelah terangsang mereka melakukan hubungan seksual yang mana agama menyebutnya sebagai perbuatan zinah.
Rata-rata pelajar yang berkasus hubungan seksual ini melakukan secara suka sama suka. Perbuatan itu sebagian dilakukan di rumah atau di tempat tersembunyi dan sebagian lagi di tempat rekreasi yang suasananya lengang.
Umumnya kasus pelanggaran seksual dan kehamilan pelajar ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua. Minusnya didikan agama, broken home (orang tua yang sibuk dan suka bertengkar) dan akibat komunikasi yang sangat jelek, di rumah. Berpacaran secara sembunyi-sembunyi dan pergaulan yang sangat bebas dapat menjerumuskan pelajar putera dan puteri kepada perbuatan zina dan kehamilan. Dimana untuk seterusnya akibat perbuatan mereka itu pada gilirannya akan mencemari nama baik sekolahnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar